Tri Guntur Narwaya adalah Direktur Eksekutif Mindset Institute. Beliau menyelesaikan pendidikan doktor Kajian Budaya Media di Universitas Gadjah Mada (2019). Saat ini, Tri Guntur Narwaya (Guntur) menjadi pengajar di Fakultas Komunikasi Universitas Mercu Buana Yogyakarta, dan peneliti mengenai isu demokrasi dan hak asasi manusia.

Berdaya dan Mandiri di Masa Pandemi: Pengalaman Bali dan Jogja

3 menit waktu baca

Pandemi Corona berdampak serius pada seluruh sendi hidup masyarakat tanpa terkecuali. Tak hanya berdampak buruk pada sektor kesehatan, ia juga mengguncang berbagai aspek sosial, ekonomi maupun kehidupan normal politik secara keseluruhan.

Serangan pandemi ini juga bahkan mampu mengguncang banyak dimensi kemapanan prinsip-prinsip nilai hidup masyarakat. Peningkatan terus-menerus jumlah korban memberi efek kecemasan yang cukup besar pada harapan keberlangsungan hidup masyarakat.

Efek krisis akibat pandemi memberi kekhawatiran pada beberapa gejolak sosial yang lebih besar yang akan muncul. Intensitas krisis ini tentu dalam jangka panjang akan mempengaruhi perubahan besar pada nasib hidup masyarakat.

Pada aspek tertentu, banyak pemerintahan negara tidak cukup berhasil dalam merespon dan mengelola krisis ini. Beberapa skema kebijakan telah dilakukan, namun secara signifikan tak keseluruhan bisa memecahkan persoalan yang dampaknya sangat kompleks.

Tak keseluruhan masalah dari dampak wabah ini bisa dipecahkan oleh negara. Tidak sedikit banyak komunitas warga membangun inisiasi kolektif mandiri untuk menghadapi pandemi.

Tak hanya karena ada rasa ketidakpercayaan penuh pada kebijakan negara yang tidak produktif mengatasi wabah, namun inisiasi ini terbangun sepenuhnya karena buah kesadaran kolektif untuk bersama-sama memecahkan efek krisis yang semakin meluas.

Beberapa inisiasi warga lalu muncul di beberapa kota. Gerakan kemanusiaan Dapur Umum Jogja adalah salah satu solidaritas warga yang memberi peran penting pada aksi membantu pembagian pangan gratis pada mereka yang tidak mampu.

Di Jogja juga ditemukan inisiasi kemanusiaan yang beraneka ragam baik dalam level individu ataupun masyarakat. Sambatan Jogja (SONJO) adalah salah satu gerakan kemanusiaan yang diinisiasi untuk menghadapi dampak Covid-19. Dengan teknologi media whatsapp, gerakan ini menjaring banyak solidaritas dan komunikasi bersama menghadapi pandemi Corona.

Dalam berbagai kreasi dan inisiatif warga ditemukan banyak bentuk kerja-kerja kemanusiaan dari spontan pemberian bantuan sampai penggalangan pasar bantuan yang lebih luas.

Inisiatif kemandirian warga ini jumlahnya tak terbatas pada setiap daerah. Kerekatan, kerja sama dan kegotongroyongan menjadi modal sosial yang penting. Di Bali sendiri juga ditemukan berbagai gerakan peduli pandemi ini.

Gerakan Keadilan Bangun Solidaritas (GERAKBS), Organisasi Solidaritas Legian Peduli (SOLID), Gerakan Indonesia Berjaga, Solidaritas Pangan Denpasar, Daridesaku dan juga beberapa aksi solidaritas dapur umum lainnya sangat aktif membantu meringankan beban masyarakat Bali.

Nilai solidaritas ini menjadi bentuk gambaran bagaimana sejatinya warga masyarakat memiliki daya kekuatan yang cukup penting dalam menghadapi krisis. Berbagai fakta pengalaman ini sangat penting untuk didokumentasikan menjadi modal kearifan pengetahuan yang bisa ditularkan pada situasi-situasi krisis yang lain.

Sikap mandiri dan berdaya komunitas warga tak cukup hanya menjadi gerakan spontan namun harus ditradisikan menjadi pengetahuan sosial yang mampu ditularkan pada siapapun.

Untuk itu, MINDSET Institute bekerjasama dengan Warmadewa Research Centre mengadakan diskusi online yang bertema “Berdaya dan Mandiri di Masa Pandemi: Pengalaman Bali dan Jogja” pada hari Jumat 21 Agustus 2020.

Diskusi tersebut menghadirkan nara sumber seperti Gusti Ayu Ratna Dewi (Co-Founder Daridesaku), Rimawan Pradiptyo (Dosen FEB UGM dan Inisiator SONJO), Ngurah Suryawan (Dosen FISIP Universitas Warmadewa) dan Argo Twikromo (MINDSET Institute dan Dosen FISIP Universitas Atma Jaya Yogyakarta) dengan moderator Linda Sudiono (Dosen Fakultas Hukum Universitas Atma Jaya Yogyakarta).

Gusti Ayu memaparkan ide awal terbentuknya Daridesaku saat awal Covid-19 pada tanggal 10 April 2020. Di Desa Seraya, Karangasem punya potensi ikan, sayur dan buahnya berlimpah tetapi penyalurannya tidak ada.

Gusti Ayu bersama temannya berpikir warga perlu dibantu karena di luar Desa Seraya sendiri banyak yang kekurangan makanan. Di Seraya pun warga tidak mungkin makan ikan sama buah saja, warga butuh beras. Sementara pejualan tidak ada.

Di satu sisi ada yang tidak makan, di sisi lain makanan berlimpah. Ada warga yang awalnya menyalurkan makanan ke hotel, tidak tersalurkan karena hotel tutup saat pandemi. Gusti Ayu bersama teman-temannya berusaha membuat wadah untuk menyalurkan hasil warga.

Gusti Ayu menyebutkan Daridesaku hanya membantu petani menyalurkan hasil panennya, dan membantu petani tetap produktif di masa pandemi ini.

Rimawan dalam paparannya berjudul “Mandiri di Tengah Pandemi: Membangun Modal Sosial Berbasis Daring” mengungkapkan cara berpikirnya terkait SONJO (24 Maret 2020) saat mendalami game theory, cara pengambilan keputusan secara taktik.

Bagi Rimawan, pandemi ini sebagai perang dengan lawannya diri kita sendiri. Maka strateginya ialah expect the unexpected (mempertimbangkan dampak terburuk), thinking the unthinkable (memikirkan solusi yang tidak terpikirkan sebelumnya), dan mobilisasi sumberdaya untuk mengatasi dampak Covid-19 di daerah/lingkungan kita.

Rimawan menyebutkan perhitungannya bersama timnya, SONJO minimum bertahan selama 2 tahun. Di SONJO tidak ada uang mengalir, semua transaksi nilainya nol. Tetapi SONJO butuh resources yang berasal dari masing-masing anggota.

Ada yang menggunakan jalinan pertemanan yang luas, ada yang jagoan membuat video, ada yang jagoan membuat poster, mereka menyumbangkan apa yang mereka miliki. Masing-masing orang mengerjakan hal yang biasa dilakukan setiap hari maka sebenarnya tidak membutuhkan uang.

Argo dalam paparannya berjudul “Berdaya dan Mandiri di Masa pandemi: Mengais Serpihan Kebijaksanaan Lokal” menyebutkan dalam konteks pandemi situasi menjadi rumit, binggung dan setres namun di sisi lain memunculkan “warna” kebijaksanaan lokal di beberapa wilayah.

Serpihan “warna” kebijaksanaan lokal, kita menemukan nuansa persaudaraan, saling membantu dan bekerjasama, saling berbagi makan, negosiasi dengan merajit jejaring. Perbedaan-perbedaan yang acapkali dijadikan pijakan untuk saling curiga relatif tak bersekat lagi.

Sebaiknya perlu melakukan perpaduan langkah untuk orientasi jangka pendek dan panjang antara mikro dan makro, lokal dan non-lokal, casuistic dan holistic, suwung awang uwung.

Sementara Ngurah dalam paparannya “Bali, Gering Agung, dan Solidaritas Sosial” menyampaikan ada dua hal yang sering Warmadewa Research Centre (WRC) diskusikan, yaitu apakah pandemi ini memperburuk situasi, ada kegagalan negara dalam menangani krisis, atau yang kedua ia bisa menjadi turning point perubahan mendasar dari negara, bisnis dan masyarakat.

Karena ada pernyataan dari Gubernur Bali yang mempertanyakan peran sektor bisnis di saat pandemi setelah mengeruk Bali, mereka meninggalkannya begitu saja. Menurut Ngurah, berkaca dari penanganan pandemi di negara lain, penanganannya berbasis data dan dipandu oleh nilai-nilai kemanusiaan.

Pandemi selalu dipandang ambigu, baik buruk, sekala dan niskala. Maka perlu adanya upaya mengembalikan keharmonisan tatanan (yadnya) kepada para bhuta yang menimbulkan wabah.

Tri Guntur Narwaya
Tri Guntur Narwaya adalah Direktur Eksekutif Mindset Institute. Beliau menyelesaikan pendidikan doktor Kajian Budaya Media di Universitas Gadjah Mada (2019). Saat ini, Tri Guntur Narwaya (Guntur) menjadi pengajar di Fakultas Komunikasi Universitas Mercu Buana Yogyakarta, dan peneliti mengenai isu demokrasi dan hak asasi manusia.