Y. Argo Twikromo adalah Ketua Pengawas Mindset Institute. Beliau menyelesaikan pendidikan doktor antropologi di Radboud Universiteit Nijmegen, Belanda (2008). Selama ini, Y. Argo Twikromo (Argo) banyak menulis dan melakukan penelitian mengenai keadaan masyarakat dengan metodologi antropologi. Argo juga mengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Atma Jaya dan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Kehidupan Selaras dalam Pergumulan Global

3 menit waktu baca

NUANSA pengelolaan kehidupan bersama yang selaras telah menjadi kekhasan bagi tata kelola kehidupan yang telah diwariskan oleh nenek moyang bangsa ini. Pengelolaan kehidupan tersebut relatif terpadu secara holistik dan terintegrasi dengan berbagai komponen kehidupan sosial-budaya yang saling menopang dan saling tak terpisahkan. Rajutan bertingkat dan padu serasi antarberbagai komponen tersebut menghasilkan ekosistem kebudayaan yang menyangga tatanan kehidupan selaras dan harmonis, bahkan mengandung orientasi kehidupan jauh ke depan (jangka panjang).

Keseimbangan dan keharmonisan relasi antara manusia dengan sesama, dengan alam, dan dengan Sang Pencipta serta keselarasan antarketiganya menjadi tata kelola kehidupan bersama berdasarkan kondisi geografis dan perkembangan kehidupan di masing-masing wilayah. Kokohnya rajutan atau mata rantai antarkomponen tersebut masih menyisakan penggalan-penggalan nuansa keselarasan di tengah pergolakan dan gelombang dunia global. Dalam konteks saat ini, serpihan dan potongan rajutan kehidupan selaras masih dapat ditemukan dalam berbagai rangkaian peristiwa kehidupan sosial-budaya yang tersebar di berbagai penjuru negeri ini.

Perjumpaan dan Pergumulan

Perjalanan panjang dinamika kehidupan bangsa ini telah membuka ruang perjumpaan, silang budaya, kontestasi, pergumulan, pergesekan, dan bahkan pergulatan antarkekuatan, baik secara internal maupun eksternal. Ketersediaan ruang tersebut justru membuka peluang dialogis berbagai rekonstruksi dan transformasi kehidupan. Perjumpaan dan pergumulan tersebut telah membentuk daya pegas, sikap cerdik, maupun perkawinan “cantik” agar kehidupan bersama dapat terus berlanjut terkelola secara selaras dan padu serasi.

Dalam konteks ini, pengelolaan kehidupan selaras dapat relatif terwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya sehingga mampu mewarnai berbagai dinamika kehidupan selama berabad-abad. Perlu dipahami bahwa logika pikir sederhana nenek moyang bangsa ini barangkali telah memperhitungkan proses internalisasi asas dan nilai keselarasan kehidupan bersama agar dapat terkelola secara berkelanjutan dan merasuk dalam hati sanubari para pendukungnya. Berbagai penyelenggaraan rangkaian kegiatan sosial-budaya seringkali menjadi wahana penghayatan keberadaan manusia, sekaligus sebagai proses internalisasi relasi selaras antarberbagai komponen kehidupan.

Beberapa dasawarsa terakhir, kehadiran dominasi kekuatan eksternal (global), termasuk seperangkat logika pikir yang terkandung di dalamnya telah berkembang menjadi gelombang sangat besar. Gelombang ini menghempaskan rajutan nuansa keselarasan dan keharmonisan dalam tata kelola kehidupan bersama di berbagai wilayah negeri ini.

Ketika kekuatan eksternal telah berhasil menginternalisasikan logika pikirnya ke dalam sebagian besar kehidupan masyarakat, maka logika pikir nonlokal tersebut menjadi relatif dominan. Dalam konteks ini, kehadiran kekuatan eksternal dan perangkatnya tidak mampu terbendung dan terkendalikan lagi. Ruang perjumpaan antara berbagai komponen nonlokal dan lokal menjadi ajang penaklukan yang menceraiberaikan rajutan berbagai komponen yang secara holistik menjadi mata rantai nuansa keselarasan, keseimbangan, dan keharmonisan kehidupan bersama. Perlu dipahami bahwa logika pikir lokal relatif berbeda dengan logika pikir nonlokal yang kurang terintegrasi dengan kondisi geografis dan lingkungan sosial-budaya bangsa ini.

Penghayatan terhadap realitas kehidupan sehari-hari relatif menjadi kurang terintegrasi dan kurang tertopang oleh kesatuan rajutan antarberbagai komponen secara jelas. Bahkan, keselarasan relasi secara holistik dan terintegrasi antara manusia dengan sesama, dengan alam, dan dengan Sang Pencipta kurang memperoleh konteks pijakan nyata.

Penyelenggaraan berbagai kegiatan sosial-budaya ataupun adat dan tradisi sebagai wahana penghayatan keberadaan manusia, pada gilirannya lebih berpijak pada memori dan narasi kehidupan masa lalu, bukan berpijak pada realitas kehidupan yang sedang dijalani. Dalam konteks kehidupan masa lalu, penghayatan atas keutuhan rajutan dari berbagai komponen kehidupan maupun keterhubungan erat berbagai etika, asas, kebijaksanaan, dan nilai yang terkandung di dalamnya akan bermuara pada pemahaman yang kokoh dan kuat untuk saling menjaga keselarasan dan keharmonisan kehidupan bersama.

Merengkuh Kehidupan Selaras

Kehidupan sosial-budaya mengisyaratkan suatu geliat dan gerak dinamis dari berbagai perbedaan logika pikir, baik lokal maupun nonlokal. Pergumulan dan perjumpaan logika pikir yang berbeda telah memberikan ruang kreasi terus-menerus dan lebih terbuka dalam ambang batas formulasi penerimaan dan penolakan maupun bertahan dan berubah. Dalam konteks ini, kehidupan sosial-budaya mengandung berbagai komponen yang relatif saling berhubungan dan bertolak belakang, saling terangkai dan tersebar, saling melebar dan menyempit, serta saling terbuka dan tertutup.

Ketika internalisasi logika pikir nonlokal telah menjadi dominan dalam kehidupan bangsa ini, maka pola pikir lokal dalam tata kelola kehidupan yang berbasiskan pada relasi selaras antara manusia dengan sesama, dengan alam, dan dengan Sang Pencipta menjadi relatif terpinggirkan. Ketiga relasi yang merupakan satu kesatuan holistik dan terintegrasi tersebut cenderung menjadi tersegmentasi dan komponen maupun rajutan kebijaksanaan dan nilai yang terkandung di dalamnya kurang terpahami.

Dinamika kebudayaan telah memberikan ruang bagi penyeberangan atau pelintasan batas antarkomponen kehidupan dan logika pikir, baik lokal maupun nonlokal. Batas-batas antara lokal dan nonlokal menjadi relatif cair, abstrak, dan kurang dapat terpetakan secara jelas. Penyeberangan logika pikir dan komponen dalam ambang batas antara lokal dan nonlokal menjadi relatif fleksibel, tergantung pada konteks ruang dan waktu.

Logika pikir nonlokal merasuk dalam berbagai komponen kehidupan internal (lokal), begitu juga sebaliknya. Dengan kata lain, berbagai komponen lokal terkelola dengan logika pikir nonlokal atau dapat juga terjadi berbagai komponen nonlokal terkelola dengan logika pikir lokal, dan bahkan campur aduk antara keduanya. Pengelolaan secara holistik dan terintegrasi terhadap kehidupan bersama yang selaras relatif bergeser pemahamannya menjadi penggalan-penggalan komponen dengan nuansa kehidupan yang relatif berbeda nuansanya. Dalam konteks ini, serpihan dan potongan komponen tersebut menjadi relatif terpisah dan kurang terajut sebagai ekosistem kehidupan yang bermuara pada kehidupan bersama yang selaras.

Refleksi Bersama

Perlu kesadaran dan pengenalan pada setiap logika pikir dominan yang melekat pada diri kita masing-masing. Kesadaran ini sangat penting bagi pengelolaan tata kehidupan bersama secara berkelanjutan, kreatif, dan dinamis agar mampu menemukan rajutan perjumpaan logika pikir maupun komponen kehidupan yang terkandung di dalamnya, baik lokal maupun nonlokal, secara relatif berimbang dan harmonis.

Gagasan ini telah dimuat di SindoNews.com (25 September 2020)

Ruang perjumpaan semacam itu diharapkan dapat mereproduksi dan mengonstruksi berbagai daya pegas, sikap cerdik, perkawinan “cantik”, serta transformasi padu serasi untuk merajut kebijaksanaan dalam suatu ekosistem yang bermuara pada keselarasan kehidupan bersama. Nuansa relasi selaras antara manusia dengan sesama, dengan alam, dan dengan Sang Pencipta secara holistik dan terintegrasi, perlu dijadikan muara dari rajutan tatanan kehidupan bersama dengan orientasi pada kehidupan jauh ke depan (jangka panjang).

Y. Argo Twikromo
Y. Argo Twikromo adalah Ketua Pengawas Mindset Institute. Beliau menyelesaikan pendidikan doktor antropologi di Radboud Universiteit Nijmegen, Belanda (2008). Selama ini, Y. Argo Twikromo (Argo) banyak menulis dan melakukan penelitian mengenai keadaan masyarakat dengan metodologi antropologi. Argo juga mengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Atma Jaya dan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.