Y. Argo Twikromo adalah Ketua Pengawas Mindset Institute. Beliau menyelesaikan pendidikan doktor antropologi di Radboud Universiteit Nijmegen, Belanda (2008). Selama ini, Y. Argo Twikromo (Argo) banyak menulis dan melakukan penelitian mengenai keadaan masyarakat dengan metodologi antropologi. Argo juga mengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Atma Jaya dan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Local Wisdom dalam Pendidikan

4 menit waktu baca

Perkembangan kehidupan global telah memberikan pilihan beragam atas landasan tata kelola kehidupan bersama. Berbagai kekuatan dan elemen kehidupan dari belahan dunia lain saling berkompetisi dalam berebut pengaruh dan kuasa sesuai dengan logika kebenarannya masing-masing.

Local wisdom sebagai landasan pengelolaan khas kehidupan bangsa yang lebih mengedepankan relasi selaras dan relatif jauh dari nuansa kompetisi, pada gilirannya, tersingkirkan dalam pergumulan kehidupan saat ini.

Para pengambil kebijakan pendidikan telah melakukan berbagai upaya agar dapat sinergis dan sesuai dengan perkembangan kehidupan global. Tidak dapat dipungkiri bahwa capaian kemajuan bangsa ini dalam kehidupan sangat dirasakan manfaat dan keuntungannya.

Namun ketika tata kelola kehidupan khas bangsa ini yang lebih mengedepankan relasi selaras kurang diberi ruang dalam pendidikan dan lebih mengejar capaian agar sesuai dengan perkembangan global, maka perangkap ketergantungan terhadap dunia global menjadi semakin kuat, sekaligus menyisakan ketimpangan dan ketidakmerataan di berbagai lini kehidupan.

Dasar pijakan pada local wisdom menjadi koridor utama dalam pendidikan agar proses internalisasi atas karakter khas bangsa dapat berkelanjutan di tengah hiruk pikuknya kemajuan dunia global. Kebijaksanaan khas bangsa ini (local wisdom) yang lebih mengedepankan relasi selaras da harmonis relatif akan meredam kuatnya ranah eksploitasi yang ditopang oleh berbagai bentuk kompetisi dan persaingan dalam dunia global.

Kehidupan akan mengerucut pada ranah individu maupun kelompok-kelompok tertentu dan pencapaia hasil nyata relatif cepat (instan), bukan lagi keselarasan kehidupan bersama secara holistik.

Ketika local wisdom kurang dikedepankan dalam dunia pendidikan, maka kehidupan bangsa ini akan terus diguncang dan diaduk-aduk oleh berbagai kekuatan dari luar. Karakter khas dalam keselarasan kehidupan menjadi kurang terkoneksi atau bahkan terasa asing dalam kehidupan bangsa ini.

Pendidikan buka hanya membawa bangsa ini mencapai kemajuan dan keuntungan bagi kehidupan, tetapi juga mencapai keharmonisan kehidupan bersama agar terbangun peradaban baru yang dikagumi sekaligus ingin dicapai bangsa lain.

Local Wisdom

Para leluhur bangsa ini telah mewariskan pendidikan tata kelola kehidupan yang mengedepankan relasi selaras antara manusia dengan sesama, dengan alam, dengan Sang Pencipta, dan bahkan antar ketiganya.

Berbagai elemen kehidupan juga saling memberikan kontribusi bagi terciptanya tatanan kehidupan bersama secara harmonis melalui penyelenggaraan adat-tradisi dan kegiatan sosial-budaya masyarakat.

Kehidupan sehari-hari masyarakat sering kali diwarnai dengan cerita rakyat, mitos, kepercayaan, simbol, personifikasi leluhur, narasi, segala bentuk sikap dan perilaku, serta ritual sebagai bentuk turunan prinsip selaras yang pada gilirannya akan saling menopang atas terwujudnya keselarasan kehidupan bersama secara holistik.

Dalam konteks ini, relasi selaras dalam kehidupan terus terkoneksi dan direproduksi di hampir semua lini kehidupan sebagai bentuk pembelajaran, pendidikan, internalisasi, dan penghayatan.

Nuansa pendidikan semacam ini telah menjadi landasan pengelolaan kehidupan sejak berabad-abad lampau. Perwujudan kehidupan yang nyaman, tenteram, sejahtera, dan berkecukupan secara holistik relatif menjadi tanggung jawab bersama.

Berbagai pengelolaan kehidupan bersama dalam wilayah geografis relatif kurang menentu cenderung dikelola melalui rajutan tradisi pemberian timbal-balik (resiprositas) agar dapat saling terkoneksi dengan wilayah lain. Berbagai dikotomi kehidupan sering kali dipertautkan agar mendapatkan ruang perjumpaan yang padu serasi.

Koridor Keselarasan

Sejarah panjang bangsa ini telah mengalami berbagai perjumpaan, pertemuan, silang budaya, dan pergumulan dengan berbagai elemen kehidupan berbeda. Pengutamaan keselarasan kehidupan bersama secara tidak disadari telah memberikan ruang pengelolaan dalam berbagai perjumpaan, termasuk nilai dan logika pikir kehidupan berbeda.

Ruang perjumpaan dengan koridor keselarasan mensyaratkan keterpaduan dengan keseluruhan komponen kehidupan (holistik). Ketimpangan kehidupan relatif akan terus terengkuh dan dipertautkan dalam kehidupan bersama melalui keselarasan dinamis antara ambang batas perbedaan dan dikotomi yang ada.

Nenek moyang bangsa ini relatif memahami keselarasan kehidupan bersama sebagai koridor utama tata kelola melalui penghayatan berbagai peristiwa kehidupan sebagai sarana pembelajaran dan internalisasi. Para leluhur berperan sebagai pengelola dan pengendali arah kehidupan di wilayahnya masing-masing. Agar kesinambungan dan keberlanjutannya relatif terus terpelihara dan terkoneksi dengan nilai-nilai ataupun kebijaksanaan tata kelola kehidupan secara selaras.

Tidak mengherankan apabila masyarakat di berbagai wilayah Nusantara sering kali dipandang mempunyai relasi yang relatif dekat dengan para leluhur. Kedekatan dengan para leluhur relatif membuka ruang pembelajaran dan penghayatan atas kebijaksanaan tata kelola kehidupan selaras.

Perwujudan kedekatan sering kali tertuang dalam adat, tradisi, dan kehidupan sehari-hari. Sekaligus telah membuka ruang konektivitas dan pewarisan atas nilai-nilai dan kebijaksanaan kehidupan bersama secara selaras.

Kedekatan relasi dengan leluhur cenderung terputus ketika hanya dibingkai dengan terminologi penyembahan yang tidak rasional dalam konteks logika pemikiran saat ini. Tanpa disadari berbagai sumber pembelajaran, pendidikan, dan penghayatan atas tata kelola kehidupan selaras menjadi relatif terputus dan terabaikan.

Pada gilirannya, landasan utama pendidikan maupun pengetahuan tata kelola kehidupan bersama cenderung hanya mengacu pada perkembangan kehidupan global dan relatif mengesampingkan keberadaan local wisdom.

Perjumpaan Global

Perjumpaan dengan kehidupan modern ataupun global telah memberikan alternatif atas pengetahuan tata kelola kehidupan baru walaupun nilai-nilai dan kebijaksanaan jauh berbeda dengan konteks relasi selaras. Ruang eksploitasi menjadi terbuka lebar dengan kehadiran kompetisi atau persaingan yang lebih mensyaratkan peran individu, instan, dan orientasi sekejap pada wujud nyata dalam meraihnya.

Para pengendali tatanan kehidupan modern maupun global kurang tampak jelas kehadirannya, namun pengaruhnya terus merasuk secara dominan dalam kehidupan bangsa ini.

Perkembangan kehidupan global memang tidak mungkin bisa dihindari dan telah membawa berbagai kemajuan serta keuntungan, walaupun terus menyisakan ketimpangan di sana-sini. Koridor keselarasan kehidupan bersama tidak mampu dapat menahan kehadiran kompetisi yang lebih mensyaratkan peran individu, instan, dan wujud nyata sekejap.

Berbeda dengan kekhasan local wisdom yang lebih mensyaratkan kebersamaan, kehidupan jauh ke depan, rajutan elemen kehidupan dalam keselarasan bersama, dan capaian kehidupa holistik, bukan sekadar individu maupun kelompok tertentu.

Dalam kehidupan global relasi selaras antar manusia dengan sesama maupun dengan alam relatif terhempas oleh kuatnya prinsip eksploitasi dan persaingan. Dalam konteks ini, nuansa local wisdom dalam pengutamaan kehidupan selaras dan orientasi kehidupan jangka panjang menjadi relatif kurang dipertautkan dalam proses pendidikan bangsa.

Dinamika dan Konektivitas Pendidikan

Landasan pendidikan dalam local wisdom relatif bermuara pada terwujudnya keselarasan kehidupan bersama beserta berbagai turunan yang saling menopang terbentuknya ekosistem kehidupan secara selaras.

Dalam konteks kehidupan modern maupun global, keberadaan local wisdom justru relatif kurang terwadahi secara seimbang karena tidak mendukung prasyarat-prasyarat dalam pencapaian kehidupan tersebut. Keberadaan pendidikan memang tidak bisa lepas keterkaitannya dengan kehidupan modern ataupun global.

Pendidikan formal yang diperkenalkan sejak penjajahan Belanda, pada gilirannya juga harus terajut dengan tatanan kehidupan global.

Sejalan dengan pendidikan formal, pendidikan nonformal dan informal juga lebih menjadi turunan penopang tercapainya kehidupan global. Seolah-olah keberadaan pendidikan kurang memberikan ruang bagi keberadaan local wisdom dalam pengelolaan keselarasan kehidupan bersama dan merengkuh karakter bangsa ini.

Pendidikan bukan sekadar penaklukan atau perubahan tanpa konektivitas dalam keberlanjutan kehidupan bangsa ini. Para pengelola dan pengambil kebijakan pendidikan tentunya terus bergumul dan bergulat dengan perkembangan zaman agar tidak tertinggal dari kemajuan kehidupan global. Sekaligus memberikan ruang dan porsi bagi upaya internalisasi kehidupan selaras sebagai landasan terwujudnya karakter khas bangsa.

Upaya dalam merawat local wisdom dan keberpihakan kepada logika berpikir lokal sebagai landasan pendidikan karakter bangsa bukan merupakan sesuatu yang asing.

Berbagai dikotomi perlu dipahami dan disikapi dengan mengedepankan relasi selaras. Dengan demikian, serpihan nilai-nilai keselarasan dalam local wisdom yang masih tersisa dapat ditransformasikan dan dikelola kembali.

Dalam konteks ini, ruang pendidikan juga dapat merengkuh dan menaungi nilai-nilai selaras dalam local wisdom untuk disandingkan atau bahkan dikawinkan secara padu serasi dengan nilai-nilai kehidupan global yang berkembang saat ini.

Keseimbangan ruang dan porsi dalam ranah lokal-global, pengelolaan secara terintegrasi da holistik, serta perkawinan cantik atau padu serasi menjadi prasyarat utama perpaduan berbagai komponen kehidupan tersebut. 

Gagasan ini telah dimuat di Kumparan.com (7/03/2021).

Perlu perubahan pola pikir (mindset) untuk mempertautkan local wisdom dalam kebijakan dan pengelolaan pendidikan, sekaligus membangun peradaban baru. Dunia pendidikan tidak hanya sekedar dapat membawa kehidupan bangsa menjadi semakin berkembang dan maju, tetapi juga menghantarkan keharmonisan kehidupan bersama secara holistik.

Y. Argo Twikromo
Y. Argo Twikromo adalah Ketua Pengawas Mindset Institute. Beliau menyelesaikan pendidikan doktor antropologi di Radboud Universiteit Nijmegen, Belanda (2008). Selama ini, Y. Argo Twikromo (Argo) banyak menulis dan melakukan penelitian mengenai keadaan masyarakat dengan metodologi antropologi. Argo juga mengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Atma Jaya dan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Membangun Habitus Antikorupsi

Oleh: Engelbertus Viktor Daki (Mahasiswa STF Driyarkara) Korupsi di Indonesia sudah menjadi wabah yang tak kunjung menemui obatnya. Sangat sering kita mendengar berita mengenai...
Mindset Institute Mindset Institute
6 menit waktu baca

Homo Deus atau Homo Wereng?

Wahyu Harjanto Wahyu Harjanto
2 menit waktu baca

Kritik Ideologi Žižek

Slavoj Žižek adalah salah satu filsuf Barat terkemuka zaman ini. Secara khusus, ia mempelajari teori G.W.F. Hegel, Marxisme, dan psikoanalisis Jacques Lacan. Ia memberi...
Heronimus Heron Heronimus Heron
18 detik waktu baca