Y. Argo Twikromo adalah Ketua Pengawas Mindset Institute. Beliau menyelesaikan pendidikan doktor antropologi di Radboud Universiteit Nijmegen, Belanda (2008). Selama ini, Y. Argo Twikromo (Argo) banyak menulis dan melakukan penelitian mengenai keadaan masyarakat dengan metodologi antropologi. Argo juga mengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Atma Jaya dan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Lumbung Mataraman

1 menit waktu baca

LUMBUNG Mataraman merupakan program yang dirancang dari gagasan pembangunan berkelanjutan di tingkat global. Ruang pertanian berkelanjutan menjadi terbuka dan memberikan peluang di tingkat nasional untuk merancang Program Kawasan Rumah Pangan Lestari dalam mendukung kemandirian pangan dan kesejahteraan rumah tangga. Gayung bersambut dengan tradisi, karakter, serta kondisi lingkungan dan sosial-budaya di DIY melalui Program Lumbung Mataraman sebagai pertanian berkelanjutan lahan terbatas.

Tujuan utama dari program ini adalah mengentaskan kemiskinan, sehingga dampak program tersebut dapat meningkatkan pendapatan warga. Lumbung Mataraman telah menginspirasi tradisi pemanfaatan lahan terbatas pekarangan rumah tangga sebagai penyedia kebutuhan pangan. Sekaligus berpeluang menjadi benteng pertahanan lokal ketika terjadi krisis global akibat pandemi ini.

Terputusnya tradisi masyarakat akibat intensifikasi pertanian beberapa dasa warsa lalu mulai dapat ditemu-kenali kembali. Peluang untuk mengutamakan kemandirian pangan, diversifikasi pangan lokal, pelestarian sumber daya genetik pangan, dan pemanfaatan lahan relatif terbuka kembali. Falsafah nandur sing dipangan, mangan sing ditandur menjadi semangat kemandirian lokal. Lumbung Mataraman bukanlah bangunan fisik tetapi lumbung pangan hidup yang berbasis pada rumah tangga.

Dalam pengembangannya diharapkan menjadi lumbung pangan kawasan yang dapat mendukung ketahanan pangan, kemandirian pangan, dan kedaulatan pangan di wilayah DIY. Melalui Lumbung Mataraman, masyarakat diharapkan dapat menata kembali kebijaksanaan lokal dan tradisi kehidupan bersama mereka secara mandiri. Ruang perjumpaan padu serasi antara lokal dan global terkait dengan pangan serta berbagai komponen pendukung lain, perlu dipertimbangkan secara saksama.

Tampaknya gagasan pertanian berkelanjutan berasal dari dunia global. Namun prinsip-prinsip utamanya sudah dikenali petani lokal bangsa dan terputus sejak beberapa dasa warsa lalu. Prinsip-prinsip tersebut telah tertaklukkan atau terpinggirkan oleh intensifikasi dan modernisasi pertanian yang dibawa oleh perkembangan modernitas dan global.

Pertanian bangsa ini menjadi terombang-ambing dan relatif tergantung pada dunia global. Keberadaan Lumbung Mataraman perlu didukung komponen-komponen yang saling terajut di dalamnya dalam suatu lingkungan tertentu. Komponen-komponen penyangga tersebut dapat berupa suatu yang kasat mata maupun tidak kasat mata, seperti sistem nilai yang barangkali berbeda dengan nilai-nilai kehidupan global. Keberadaan Lumbung Mataraman akan terajut dengan ekosistem kehidupan lain dalam mewujudkan kehidupan bersama secara selaras, padu serasi, harmonis, mandiri, dan berorientasi pada keberlanjutan kehidupan jangka panjang.

Keberadaan Lumbung Mataraman telah membuka ruang perjumpaan dan pergumulan antara lokal dan global semakin cair. Bukan lagi mengutamakan sekat perbedaan dan dikotomi yang tajam, melainkan mempertemukan ambang batas keterpaduannya. Ketika ruang-ruang perbedaan diberi keseimbangan porsi, maka para warga justru merajut elemen lokal dan global agar dapat saling menunjang, menopang, melengkapi, dan berkolaborasi secara padu serasi.

Upaya menyandingkan secara selaras tidak hanya mewujudkan pencapaian dalam bidang penghasilan (ekonomi) saja. Tetapi juga mewujudkan kehidupan harmonis dalam kegiatan Lumbung Mataraman. Terutama relasi kehidupan selaras antara manusia dengan sesama, dengan lingkungan, dan dengan Sang Pencipta.

Kegiatan dalam Lumbung Mataraman sangat terkait erat dengan perwujudan ekosistem kehidupan bersama yang mensyaratkan relasi harmonis antar ketiganya. Keselarasan kehidupan bersama dapat memberikan ruang terjadinya perkawinan cantik secara berimbang dan padu serasi.

Gagasan ini telah dimuat di Koran Kedaulatan Rakyat (14/01/2021).

Ketersediaan ruang bagi berbagai perjumpaan dan perbedaan menjadi semangat dalam koridor kenyamanan dan keharmonisan kehidupan bersama yang berorientasi jauh ke depan atau jangka panjang. Keberadaan Lumbung Mataraman diharapkan bukan hanya untuk pencapaian hasil yang tampak saja, tetapi juga pencapaian kelestarian kehidupan bersama secara padu serasi, harmonis, mandiri, bermartabat, dan berorientasi jauh ke depan.

Y. Argo Twikromo
Y. Argo Twikromo adalah Ketua Pengawas Mindset Institute. Beliau menyelesaikan pendidikan doktor antropologi di Radboud Universiteit Nijmegen, Belanda (2008). Selama ini, Y. Argo Twikromo (Argo) banyak menulis dan melakukan penelitian mengenai keadaan masyarakat dengan metodologi antropologi. Argo juga mengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Atma Jaya dan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Kritik Ideologi Žižek

Slavoj Žižek adalah salah satu filsuf Barat terkemuka zaman ini. Secara khusus, ia mempelajari teori G.W.F. Hegel, Marxisme, dan psikoanalisis Jacques Lacan. Ia memberi...
Heronimus Heron Heronimus Heron
18 detik waktu baca

Baha’i dan Tuduhan “Sesat”

Amanah Nurish Amanah Nurish
24 detik waktu baca