Tri Guntur Narwaya adalah Direktur Eksekutif Mindset Institute. Beliau menyelesaikan pendidikan doktor Kajian Budaya Media di Universitas Gadjah Mada (2019). Saat ini, Tri Guntur Narwaya (Guntur) menjadi pengajar di Fakultas Komunikasi Universitas Mercu Buana Yogyakarta, dan peneliti mengenai isu demokrasi dan hak asasi manusia.

Mengenang Arief Mengingat Republik

3 menit waktu baca

Resensi Buku

Judul Buku: Kanan Kiri Arief Budiman: Kenangan Murid dan Kawan bagi Seorang Cendekiawan di Garis Depan Perlawanan

Penyusun: Eri Sutrisno & Joss Wibisono

Penerbit: Garba Budaya dan Komunitas Geni

Tahun Terbit: Juni 2020

Jumlah hal: xvi + 279 halaman

____________

Arief Budiman (Soe Hok Djin) adalah teks berharga bagi narasi perkembangan republik. Tidak semata karena intelektualitas dan kecendekiawanan yang dimilikinya, tetapi hampir sebagian besar perjalanan hidup Arief Budiman begitu erat dengan berbagai simpul dinamika sosial politik bangsa ini. Mengenang sosok Arief berarti membaca persinggungannya dengan sekian jejak penting bagaimana republik ini terus membangun dirinya.

Predikat yang melekat sebagai sosok aktifis, ilmuwan, inspirator, mentor gerakan dan budayawan tidaklah berlebihan. Arief adalah salah satu mutiara berharga untuk mendalami literatur tentang keindonesiaan. Jejak yang tidak akan dijumpai dalam arsip memori kekuasaan, namun terpahat sebagai rambu pendobrak setiap pretensi politik yang menyimpang.

Sosoknya dikenal sebagai seorang pejuang demokrasi yang tangguh dan mau terlibat pada jantung persoalan sosial. Gagasan kritisnya banyak tersebar mempengaruhi berbagai diskursus tentang demokrasi, gerakan sosial, polemik kebudayaan serta kritik besarnya atas nalar developmentalisme ekonomi. Sikap kritisnya yang konsisten membuat Arief banyak disegani oleh setiap orang yang mengenalnya, baik mereka yang dekat ataupun berseberangan dengannya.

Kamis, 23 April 2020, di Rumah Sakit Ken Saras Semarang, di usianya 79 tahun, Arief menghembuskan nafas terakhirnya. Kepergiannya memberikan kesan dan pesan yang mendalam bagi seluruh sahabatnya, dan secara luas bagi dunia perjuangan demokrasi Indonesia. Kakak kandung Soe Hok Gie ini sudah menuntaskan tugasnya dengan baik.

Ada banyak catatan memori yang bisa dipelajari dari kiprahnya. Nilai-nilai berharga itu banyak berserak dalam pengalaman dan pergulatan Arief di berbagai situasi yang digelutinya. Buku ‘Kanan Kiri Arief Budiman’ ini sepenuhnya didedikasikan untuk merekam dan mengenang pribadi Arief. Catatan buku ini ditulis oleh banyak sahabat dekat dan murid intelektualnya. Memori atas sosok Arief melintas dan terekam dalam banyak narasi yang reflektif dan bermakna.

Nama Arief mulai muncul pada transisi politik 1966. Bersama barisan mahasiswa, ia berdiri melawan rezim kekuasaan Soekarno. Dalam posisi ini, ada banyak penilaian yang meletakkan Arief sebagai bagian dari arus pendukung naiknya Orde Baru.

Pilihan sikap Arief yang melibatkan diri sebagai salah satu inisiator penandatanganan Manifes Kebudayaan (Manikebu), bersama tokoh lain seperti H.B Jassin, Taufik Ismail, Wiratno Soekito, Batari Asnin, Goenawan Mohammad, dll – untuk menentang Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) –  membuat dirinya dijuluki sebagai ‘intelektual kanan’. Label ini tentu tidak seluruhnya salah, karena memang fragmentasi politik di saat itu telah mendorong Arief berada dalam posisi melawan kekuasaan Soekarno. Namun dalam rentang perjalannya, label itu bergeser.

Ada sisi diskontinuitas dan pergeseran arah sejarah. Sebagaimana Ong Hok Ham pernah mengingatkan tentang kemungkinan arah diktator militer Soeharto, Arief pada akhirnya memilih untuk berada di luar panggung kekuasaan dan berposisi melawan rezim Orde Baru. Dia sepenuhnya berikhtiar pada prinsip demokrasi. Segala pretensi kesewenang-wenangan yang membunuh kebebasan perlu dilawan. Konsistensi ini dibuktikan Arief sepanjang aktifitas hidupnya, baik dalam politik maupun akademik.

Ia terlibat dalam perlawanan menentang kebijakan rezim Soeharto. Dengan gigih ia menentang pembangunan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) sehingga dikurung dalam penjara tahun 1970an. Ia menginisiasi beberapa front perlawanan seperti Komite Anti Korupsi dan gerakan menolak pemilu dalam kampanye politik ‘Golput’.

Setelah kembali dari studi doktoralnya di Universitas Havard, Amerika Serikat, Arief terus mengabdikan diri dalam berbagai aktifitas gerakan kritis, baik di dalam maupun luar kampus. Ia bersama dengan aktivis gerakan lainnya terlibat dalam perlawanan menolak rencana proyek pembangunan Kedung Ombo tahun 1980an. Beberapa isu sosial penting seperti penembakan misterius (Petrus) ditahun 1983 juga disikapinya dengan keras dan kritis.

Polemiknya di internal kampus Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) menyebabkan dirinya dipecat bersama dengan puluhan dosen lainnya di tahun 1993. Pasca pemecatan tersebut, ia justru diminta menjadi Guru Besar di Universitas Melbourne Australia.

Sosok Arief berperan penting dalam menginisiasi beberapa pendirian lembaga sosial seperti Yayasan Geni Salatiga, Kelompok Solidaritas Korban Pembangunan Kedung Ombo (KSKPKO), Institut Studi Arus Informasi (ISAI), Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dan beberapa organisasi penting lainnya. Arief bisa dikatakan menjadi manusia penting dalam mengisi diskursus perlawanan, baik dalam sisi wacana maupun praktik langsung.

Sosok Arief yang karismatik terpancar dari sisi intelektual dan komitmennya pada korban. Sikap kesederhanaan, kesahajaan dan prinsip ketekunannya untuk memperjuangkan kebenaran diakui oleh banyak orang. Dari sebagian besar obituari yang dituliskan para sahabatnya di buku ini, tertangkap bahwa Arief memiliki budi yang baik sebagai seorang sahabat, guru, mentor, motivator hingga inspirator bagi mereka yang pernah berdinamika dengan dirinya.

Stanley Adi Prasetyo dalam kenangannya menyebut Arief sebagai sosok yang konsisten melaksanakan kata-kata (hal.13). Aris Santosa, Hanif Dhakiri dan Judith Lim menyebut Arief sebagai mentor dan inspirator yang baik (hal. 71, 135, 147). Tak hanya itu, Mardimin sebagai sahabatnya di Salatiga menyebut Arief sebagai ‘seniman yang merdeka’. Sementara Otto Adi Yulianto menyebut Arief sebagai pribadi yang humoris (hal. 257). Bahkan Eri Sutrisno menyebut Arief sebagai seorang yang sangat puitis dan sekaligus romantis (hal. 265).

Wahyu Susilo menyebut Wiji Thukul seorang seniman yang menjadi korban represifitas Orde Baru menuliskan sebaris puisi sebagai penghargaan atas kebaikan budi Arief (hal. 19). “Budimu telah menjadi api”. Itulah secuil baris puisi yang menunjukan rasa terima kasih Wiji Thukul pada seluruh kebaikan dan kehangatan keluarga Arief di Salatiga.

Pujian dan kenangan baik yang diberikan kepada Arief tidak berhenti dalam kenangan. Arief adalah pesan berharga bagi republik. Apa yang sudah didedikasikannya untuk bangsa ini perlu didokumentasikan sebagai memori sejarah dan literatur hidup sebagai oase penyemangat dan inspirasi bagi generasi republik ke depan.

Tri Guntur Narwaya
Tri Guntur Narwaya adalah Direktur Eksekutif Mindset Institute. Beliau menyelesaikan pendidikan doktor Kajian Budaya Media di Universitas Gadjah Mada (2019). Saat ini, Tri Guntur Narwaya (Guntur) menjadi pengajar di Fakultas Komunikasi Universitas Mercu Buana Yogyakarta, dan peneliti mengenai isu demokrasi dan hak asasi manusia.